Senin, 15 Juni 2020

Hakekat Antropologi


Antropologi Sebagai Ilmu Yang Mempelajari Keanekaragaman dan kesamaan Manusia Indonesia

A.   Hakikat Antropologi
Antropologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Anthropos yang bearti Manusia, Logos yang bearti ilmu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Antropologi adalah ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal usul, aneka warna, bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lampau. Bapak Antropologi Indonesia adalah Koentjaraningrat. Menurut Koentjaraningrat bahwa antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari berbagai warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan. Antropologi mempelajari seluk – beluk yang terjadi dalam kehidupan kultural masyarakat dewasa ini.
B.     Objek Kajian Antropologi
Semua ilmu social budaya mengkaji kehidupan manusia. Akan tetapi, setiap cabang ilmu social budaya memiliki fokus kajian sendiri – sendiri. Ilmu Antropologi merupakan ilmu pengetahuan modern yang dapat digunakan untuk mengkaji dan memahami berbagai suku bangsa ( etnis) yang ada di Indonesia dan suku Bangsa di berbagai penjuru Dunia. Objek Kajian Antropologi adalah Manusia dalam kedudukannya sebagai individu, masyarakat, suku bangsa, kebudayaan dan perilakunya.
Masalah yang menjadi objek kajian antropologi adalah
1.      Sejarah asal dan perkembangan manusia sebagai makhluk biologis
2.      Sejarah terjadinya beragam manusia berdasarkan ciri ciri tubuh
3.      Asal, perkembangan, persebaran dan terjadi keragaman bahasa yang diucapkan manusia
4.      Perkembangan, persebaran, dan terjadinya aneka warna kebudayaan manusia
5.      Asas – Asas kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat dari semua suku bangsa


C.    Perkembangan Antropologi
Sebagai ilmu, Antropologi mengalami tahapan perkembangan. Koentjaraningrat menyusun perkembangan antropologi menjadi empat fase sebagai berikut
A.    Fase pertama
Perkembangan Ilmu Antropologi dimulai sejak abad ke 15 s/d 16. Pada saat itu bangsa – bangsa di Eropa mulai menjelajahi dunia, mulai dari Afrika, Amerika, Asia hingga Australia. Banyak hal baru yang mereka lihat dan alami, antra lain pengalaman mereka bertemu dengan suku susku asing. Perjalanan ini mereka catat pada buku harian ataupun jurnal perjalanan. Dalam catatan tersebut tidak lupa mereka mencatumkan ciri – ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat hingga bahasa yang digunakan suku – suku asing.
Bahan bahan yang berisi deskripsi suku suku tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnografi atau deskripsi tentang bangsa – bangsa. Bahan etnografi itu menrik perhatian pelajar eropa, kemudian pada permulaan abad ke 19, perhatian bangsa eropa terhadap bahan bahan etnografi suku – suku di luar Eropa dari sudut pandang ilmiah bertambah besar. Oleh karena itu, muncullah gagasan agar seluruh Himpunan bahan Etnografi tersebut diintegrasikan.
B.     Fase Kedua
Pada fase ini, bahan bahan etnografi telah disusun menjadi karangan – karangan berdsarkan pendekatan evolusi masyarakat. Sekitar tahun 1860, muncullah karangan – karangan yang mengklasifikasikan aneka ragam kebudayaan di dunia berdasarkan tingkat evolusi dari yang primitive ( masyarakat di luar bangsa eropa barat) sampai pada kebudayaan manusia tertinggi, yaitu pada masyarakat Eropa Barat.
Dalam fase kedua ini, etnografi berkembang menjadi ilmu antropologi.  Pada fase ini, Antropologi bertujuan akademis yaitu mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitive untuk memperoleh pemahaman tentang tingkatan sejarah penyebaran kebudayaan manusia.
C.    Fase Ketiga
Pada fase ketiga, koloni koloni di Benua Asia, Amerika, Australia dan Afrika dibnagun oleh Negara Negara Eropa. Untuk mengatasi berbagai kendala, seperti serangan dari bangsa asli dan berbagai pemberontakan, pemerintah colonial Eropa berusaha mencari kelemahan suku asli untuk menaklukkannya. Untuk itu, Mereka mulai mempelajari suku – suku bangsa di Luar Eropa dan mempelajari ilmu praktis yang bertujuan untuk mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku suku bangsa di luar Eropa.
D.    Fase Keempat
Pada Fase ini, Antropolgi mengalami perkembangan yang luar biasa. Bahan pengetahuan yang diteliti semakin bertambah. Metode ilmiahnya semakin tajam. Timbulnya antipasti terhadap kolonialisme sesudah perang dunia II dan mulai musnahnya bangsa bangsa primitive yang terpencil dari pengaruh kebudayaan Eropa dan Amerika mendorong Antropologi untuk mengembangkan Lapangan penelitian dengan pokok dan tujuan yang baru.
Pada fase ini, pokok tujuan dan ruang lingkup antropologi tidak lagi ditujukan pada suku suku bangsa di Luar Eropa, tetapi pada manusia di daerah pedesaan pada umumnya. Dengan demikian, Antropologi mempunyai tujuan baru yaitu mencapai pengertian tentang manusia pada umumnya dengan mempelajari keragaman bentuk fisik, masyarakat, dan kebudayaannya. Ilmu antropologi mulai bersifat akademis dan sekaligus praktis.
Ilmu antropologi bersifat akademis karena ilmu ini bertujuan untuk memahami manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka bentuk fisik, masyarakat, serta kebudayaan. Ilmu antropologi bersifat praktis karena ilmu antropologi mempelajari manusia dalam beragam suku bangsa yang bertujuan untuk membangun masyarakat suku bangsa itu.

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda